Pages

Tuesday, January 03, 2017

"Cek Toko Sebelah" - Sebuah Film yang Memang Pantas untuk Kamu Cek


Kalau biasanya kalian baca soal saya menggila-gila soal drama Korea entah itu di blog ini, Twitter atau Path saya, hari ini saya menggila soal sesuatu yang berbeda. Kali ini saya mau cerita soal film Indonesia.

Sejujurnya, saya adalah tipe orang yang cukup skeptikal kalau masalah film Indonesia. Di satu sisi, ada keinginan untuk mengapresiasi para pegiat film di Indonesia. Tetapi di sisi lain ada kekhawatiran kalau saya akan merasa kecewa, dan sorry to say, merasa rugi sudah buang waktu dan uang untuk menontonnya.

Karena itu, saat kemarin memutuskan film “Cek Toko Sebelah”, saya pun memutuskan untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi. Saya sudah membaca beberapa pendapat dari teman-teman yang memang sudah nonton dan mengakui kalau film ini memang bagus dan relatable. Tapi saya pun tetap masih skeptis. Apa iya film-nya bisa memenuhi ekspektasi saya?

Salah satu yang membuat saya memutuskan untuk nonton sebenarnya lebih karena mau menemani teman saya yang memang sudah mengincar film ini. Sedangkan saya bahkan tidak pernah menonton trailer-nya dan tidak pernah baca sinopsisnya. Sekilas ceritanya hanya tahu dari teman yang satu ini.

Saat kami datang ke bioskop, saya sempat kaget karena jam yang ingin kami tonton full house! Wah, saya benar-benar nggak pernah nyangka kalau studio yang isinya film Indonesia bisa sampai penuh gitu. Saya lihat hanya tersisa sekitar 6 kursi, itu pun 4 di paling depan dan 2 di paling belakang. Karena kami datang bertiga jadilah kami menonton di jam selanjutnya yang merupakan show terakhir di malam itu.

Setelah mendapatkan tiket untuk pukul 21.30 itu, saya pun masih terbingung-bingung. “Kok bisa ya, film Indonesia studionya sampai full begitu?” Mohon maaf, seperti yang saya bilang memang selama ini saya skepetikal mengenai film Indonesia.

Teman saya lalu bercerita kalau di minggu-minggu awal memang film Indonesia biasanya ramai, apalagi kalau memang film yang bagus dan berkualitas. Dia juga bercerita kalau sekarang semakin banyak film Indonesia yang bagus dan ramai ditonton. Baru saya manggut-manggut mengerti. Setelah saya cek, memang film “Cek Toko Sebelah” ini baru tayang tanggal 28 Desember lalu.

Kalau reaksi saya sebelum menonton film seperti di atas. Coba tebak seperti apa reaksi saya seusai menonton film?

Saya bersyukur. Bersyukur banget saya menemani teman saya untuk menonton film ini. Saya bersyukur banget karena film ini ternyata sangat di luar ekspektasi saya.

Sebelumnya saat menonton film Indonesia, saya selalu keluar dari bioskop dengan perasaan “Ya, lumayanlah ya,” atau “Okelah, not bad untuk film Indonesia.”

Kemarin itu, saya keluar dari bioskop dengan perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ada film Indonesia yang membuat saya merasa terpuaskan seusai menontonnya. Untuk pertama kalinya, saya menonton sebuah film Indonesia yang memang bagus, tanpa perlu saya justifikasi atau mengurangi ekspektasi. Untuk pertama kali, saya ingin menulis tentang sebuah film Indonesia panjang lebar di blogpost murni karena saya sangat suka film ini bukan hanya karena review semata.

Oke, mungkin saya bukan orang paling ahli di dunia perfilman atau semacamnya. Tapi dari kacamata orang awam seperti saya, film “Cek Toko Sebelah” ini adalah film yang luar biasa.

Sejujurnya, film-nya sederhana. Konflik yang diangkat pun, tidak bertele-tele. Nggak ada yang namanya penerus harta kekayaan perusahaan yang sikut-sikutan sampai tante, om, keponakan, sepupu ala drama Korea. Nggak ada juga makhluk fantasi semacam vampir, werewolf, dan semacamnya.

Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuat “Cek Toko Sebelah” ini jadi menyenangkan untuk ditonton. Apa yang terjadi pada karakter di film tersebut adalah sesuatu yang mungkin kita rasakan juga sebagai penonton.

Film ini juga meng-highlight berbagai hubungan mulai dari orang tua dan anak, kakak dan adik, suami dan istri, bos dan karyawan bahkan sampai persaingan antar toko. Saya senang karena dengan karakter yang ada, walaupun tidak dalam, mereka bisa menunjukkan dinamika hubungan manusia.

Film ini kalau dari sudut pandang saya insightful sekali. Mungkin karena konfliknya dekat dengan kehidupan yang saya jalani sekarang, saya jadi bisa relate dengan ceritanya. Sambil menonton saya seringkali membayangkan, “Wah, gimana ya kalau saya yang ada di posisi dia?” atau “Wah, saya ngerti banget perasaan si itu”

Untuk humornya sendiri, karena sebelumnya nggak pernah nonton stand up comedy-nya Ernest, saya nggak bisa membandingkan. Tetapi di film ini sendiri, humor yang disajikan cukup oke. Ada sih beberapa bagian yang ketebak. Ada juga yang jokes-nya receh ataupun jayus. Tetapi yang memang humornya lucu dan bikin ngakak juga nggak kalah banyak.

Alur ceritanya pun dibawa dengan asyik. Tidak terlalu cepat tapi juga tidak lambat, jadi saat menonton pun saya tidak menyangka kalau 2 jam sudah berlalu saja. Emosi penonton juga pelan-pelan dibawa, dari senang, sedih, senang, sedih lagi, senang lagi, walupun nggak yang sampai kayak roller-coaster gitu. Tapi they manage to capture the certain emotion on the right rime.

Selain dari segi cerita, saya juga sangat suka sisi visualnya. Eh sebentar, mungkin bukan visual ya, apa ya istilah tepatnya. Itu loh, pakaian yang dipakai karakternya, gadget-nya, bahkan sampai mobilnya. Lebih tepatnya mungkin penggambaran karakter ya. Mobilnya itu persis seperti model mobil Papa dulu, cuma beda warna saja. Model bajunya juga khas etnis Tionghoa paruh baya yang pakai kaus berkerah, celana panjang, tas pinggang dan kacamata plus.

Dari para pemainnya sendiri, akting mereka patut diacungi jempol. Terutama akting Koh Afuk yang jadi sang ayah di sini. Yang mana setelah saya googling, ternya aktornya -- Chew Kinwah -- adalah aktor Malaysia. Oke, this is a bit shocking karena pas di film, Koh Afuk ini nggak berasa Malaysia sama sekali. Rasanya ya kayak orang Indonesia yang logatnya totok. Oh ya, bonus point kalau kamu mengerti bahasa Hokkien atau semacamnya karena kamu jadi paham umpatan yang dicetuskan si Koh Afuk kalau sebel sama pegawainya, haha.

Saya sendiri sejujurnya dulu nggak terlalu suka dengan aktingnya Dion Wiyoko. Tapi di film ini, menurut saya dia bisa memerankan karakter si anak sulung dengan baik. Gisel juga nggak kalah menawan. Sejauh yang saya tahu dia seorang penyanyi. Saya belum pernah lihat dia akting sebelumnya dan ternyata she can pull it off pretty well.

Oke, sebelum saya bercerita semakin panjang, semakin lebar dan malah berujung spoiler, saya akhiri cerita saya sampai di sini. Ketimbang review, ini lebih cocok disebut appreciation post. Apresiasi terbesar saya tentunya mau saya berikan untuk Ernest Prakasa yang nggak hanya bermain sebagai pemeran utama tetapi juga sebagai penulis dan sutradara.

Saya memang belum pernah menonton karya Ernest atau stand up comedy dia sebelumnya. Tapi film ini bikin saya jadi respect dengan dia.  Ernest bisa mengemas sesuatu yang sederhana menjadi tontonan yang asyik, menyenangkan dan memuaskan.

Terima kasih “Cek Toko Sebelah”, kamu membuat saya jatuh cinta pada film Indonesia.

P.s. Saya nggak dibayar atau disuruh siapapun untuk sharing soal film ini. Saya memang kepingin saja karena menurut saya film-nya memang that good. Jadi nggak perlu tanya lagi, film ini saya rekomendasikan banget!


No comments:

Post a Comment